Korean Birthday Soup

Tema pada Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei ini adalah resep masakan andalan dalam keluarga atau relasi terdekat di hari spesial atau hari besar. Jujur saja masak memasak bukanlah keahlian saya. Saya bingung juga mau menulis resep andalan apa karena sehari-hari saya tidak pernah masak (kalau goreng telur dan masak Indomie tidak dihitung). Hanya semenjak punya anak dan Work from Home (soon full-time-mother to-be), saya akhirnya mulai memasak. Itu juga hanya masak MPASI dengan resep-resep yang sederhana. Walaupun begitu, bukan berarti saya tidak pernah memasak. Minimal saya pernah memasak makanan kesukaan. Salah satu makanan kesukaan yang pernah saya buat sendiri adalah sup rumput laut khas Korea Selatan (Miyeok-guk 미역국) atau yang dikenal juga sebagai Korean birthday soup.

Ada filosofi kenapa sup rumput laut ini disebut Korean birthday soup. Di Korea, sup ini sering diberikan kepada ibu yang baru saja melahirkan karena nutrisinya bagus untuk masa pemulihan dan juga membantu dalam produksi ASI, sehingga sup ini diasosiasikan dengan kelahiran (hari lahir). Akhirnya memakan sup rumput laut pada hari ulang tahun menjadi tradisi. Saya tidak mengikuti tradisi tersebut, tapi karena makanan ini enak, maka saya makan sup ini kapanpun saya mau. Bagi yang ingin langsung intip resep bisa scroll ke bawah.

Sebelum menjelaskan resep sup rumput laut, saya ingin bercerita latar belakang bagaimana saya bisa tahu tentang sup ini. Selepas lulus kuliah tahun 2010, saya bekerja dipabrik perusahaan elektronik asal Korea Selatan yang cukup terkenal, sebut saja Samsung. Disana saya pertama kali kenal dengan makanan pendamping (side dish) khas Korea Selatan yaitu kimchi. Awalnya saya mencicipi kimchi dari teman yang membuat sendiri. Lalu karena suka dengan rasanya, kadang-kadang suka mengambil kimchi yang disediakan dimeja makan kantin khusus untuk karyawan ekspatriat dari Korea Selatan.

FYI, seluruh karyawan mulai dari operator, engineer, sampai pejabat makan dikantin yang sama. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan kesetaraan karyawan walaupun pada kenyataannya tetap ada kasta. Meja makan untuk karyawan ekspatriat terletak diujung, diposisi yang dekat dengan AC standing dan hanya dimeja mereka disediakan side dish kimchi. Walaupun terkesan ekslusif, bukan berarti karyawan lain tidak bisa gabung dengan mereka. Bisa saja gabung, tapi mungkin tidak disambut ramah. Sejujurnya ini hanya kesimpulan saya saja, karena selama saya bekerja disana, tidak ada karyawan yang berani duduk bersama ekspat ini. Karyawan Indonesia yang makan bersama mereka adalah orang yang sudah kenal dekat, misal sesama manajer yang lagi ada perlu ngobrol diluar jam kerja atau translator bahasa Korea untuk mengobrol kasual karena sudah pasti dimeja itu obrolan mereka dalam hanggeul, yang ada roaming kita. Kalau saya waktu itu beraninya hanya mengambil kimchi, itu juga menunggu meja kosong dan buru-buru. Saya suka kimchi karena rasanya khas dan bukan karena saya pemuja budaya Korea Selatan.

Iya, ditahun segitu demam K-pop/drama sudah mulai, lho. Dan saya tidak mau dianggap ikut-ikutan tren Korea. Mundur kebelakang beberapa tahun sebelum bekerja, K-pop memang sudah mulai ramai digandrungi seperti Bigbang, SNSD, Super Junior juga K-drama seperti full house, personal taste, boys before flower, dsb tapi tidak seheboh saat ini dimana segala hal yang berbau Korea Selatan diikuti termasuk mengonsumsi makanan dan minumannya.

Kembali lagi pada masa saya bekerja, kebetulan saya berteman dengan seseorang yang pintar masak makanan khas Korea Selatan karena dia sering dinas kesana. Teman saya ini biasanya membawa masakannya sebagai bekal sarapan atau makan siang. Suatu saat saya mencicipi masakan khas Korea Selatan yang dia buat dan saya langsung jatuh cinta dengan rasanya yang khas. Namanya adalah Miyeok-guk atau sup rumput laut.

Dengan kekuatan google, resep sup rumput laut sangat mudah dicari. Dari banyaknya resep miyeok-guk, saya pilih resep di bawah ini.

Resep Miyeok-Guk (sumber: http://crazykoreancooking.com/recipe/miyeokguk-korean-seaweed-soup?conv=0#ingr)

Bahan:

– 20 gr Rumput laut kering (kalau bisa beli yang sudah dipotong-potong. Rumput laut ini bisa dibeli di mu gung hwa atau Lotte mart)

– 250 gr daging (dipotong dadu)

– 15 ml soy sauce untuk sup (Gukganjang)bisa beli di mu gung hwa, lotte mart, atau grand lucky.

Alternatif: soy sauce mana aja deh

– Garam (sesuai selera, tapi selain garam, saya juga ada tambahan penyedap rasa.. hehe..)

– 1 sdt bawang putih cincang

– 10 ml minyak wijen (buat saya sih segini kurang, jadi ujung-ujungnya sesuai selera)

– 2000 ml atau 9 cup Air cucian 2 cup beras (tapi saya tidak menggunakan air sebanyak ini karena pancinya tidak cukup, jadi saya menggunakan sekitar 1500 ml)

Alternatif: menambahkan campuran air (temperatur ruangan) dan tepung terigu/tepung beras putih (1 sdt tepung + 1/4 cup air) atau air saja

Persiapan:

1. Rumput laut

  • Rendam rumput laut 30 menit atau sesuai instruksi dibungkusan rumput keringnya.
  • Setelah mengembang, cuci/bilas 2 kali lalu tiriskan.
  • potong/gunting menjadi ukuran-ukuran yang mudah dimakan

2. Potong dadu daging sapi

3. Cincang halus bawang putih

4. Cuci beras, simpan air cucian beras diwadah. Jika menggunakan air tepung, campurkan air dan tepung lalu aduk rata sampai tidak ada gumpalan (dicampurkan ke dalam masakan 5 menit terakhir sambil diaduk)

Cara memasak:

1. Tumis potongan daging dengan minyak wijen selama 3 menit dengan api besar

2. Masukkan rumput laut ke dalam tumisan daging selama 5 menit, jika mulai lengket ke wajan bisa ditambahkan minyak wijen lagi.

3. Masukkan air beras, bawang putih cincang, garam, dan soy sauce

4. Masak hingga mendidih selama 30 menit dengan api besar

5. Buang buih yang muncul atau minyak yang berlebih

6. Cicipi dan sesuaikan tingkat keasinannya

Hasilnya?

Penampakannya sekilas mirip sayur bayam tapi kuahnya keruh ya 😄 kalau hanya dilihat dari gambar, saya tidak yakin makanan ini menggugah selera orang yang melihatnya.

Sebenarnya dari beberapa kali saya masak menggunakan resep yang ada di internet, dalam prakteknya pasti saya tidak cocok dengan rasanya. Mungkin palet lidah saya adalah lidah mecin yang haus akan rasa yang super gurih dengan citarasa wijen yang mendominasi. Saya pernah coba sup ini waktu ke Korea dan seingat saya sih rasanya enak. Setidaknya tidak sehambar rasa yang tercermin dari beberapa resep yang saya pernah coba.

Tapi walaupun begitu, setelah saya renovasi rasanya, sup ini enak banget! Kalian harus merasakan sendiri bagaimana rasanya sup ini. Hati-hati ketagihan!

3 thoughts on “Korean Birthday Soup

  1. Yang unik dari resep ini kalau menurut saya kuahnya, Teh.. kok pakai air cucian beras ya..hehe. Kalau pakai air biasa rasanya mungkin beda ya Teh

    1. Iya nih.. saya udah cobain pakai air cucian beras dan air biasa. Prasaan sih rasanya sama2 aja, bedanya yang air biasa gak butek wkwk

  2. Penasaran sama rasanya…
    Jadi inget drakor birthcare center, dikasih makannya sup rumput laut terus sampe bosen, hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s